Selalu di Posisi Atas Kasus DBD, Kapanewon Depok Ikuti Pelatihan Si Wolly Nyaman

Selalu menjadi yang teratas di posisi 3 besar kasus demam berdarah dengue (DBD), membuat Dinas Kesehatan Sleman menjadikan Kapanewon Depok dan Puskesmas Depok 1,2 dan 3 sebagai tuan rumah implementasi program Si Wolly Nyaman, Wolbachia DBD Aman. Sebuah metode terbaru merekayasa nyamuk Aedes Aegpty  dengan bakteri Wolbachia agar menekan kasus DBD.

Pelatihan Si Wolly Nyaman ini dilaksanakan di Sasana Anglocita Tama, Kamis (25/02/2021) sekitar pukul 09.00. Kapanewon Depok dan Berbah masuk dalam zona 1 sebagai area implementasi program pendukung penanganan DBD di Kabupaten Sleman. Acara pelatihan yang rencananya digelar dua hari secara offline di hari pertama dan online di hari kedua tersebut dihadiri oleh Jawatan Sosial dan Panewu Anom Kapanewon Depok, Kepala  Puskesmas Depok 1, 2, 3 beserta jajaran, Panewu Anom Kapanewon Berbah, dan Puskesmas Berbah.

“Mungkin selama ini kita baru konsen penanganan covid-19, sehingga penanganan kasus DBD sedikit terlupakan. Melalui program ini diharapkan ada transfer pengetahuan bagi peserta pelatihan dan bisa menularkannya ke kalurahan dan kader di tingkat padukuhan, ” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, Novita Krisnaeni saat memberikan sambutannya.

Lebih lanjut Novita menuturkan bahwa program ini merupakan kerjasama antara UGM, World Mosquito Program (WMP) dan Yayasan Tahija yang sudah diimplementasikan di Kota Yogyakarta dan berhasil menekan kasus DBD hingga 77%. Sedangkan di Sleman sendiri baru dilaunching Selasa, 16 Februari 2021 lalu oleh Bupati Sleman Sri Purnomo.

Sementara itu, Wakhid Basroni, Panewu Anom Kapanewon Depok mengapresiasi dan mendukung pelatihan ini bagi tenaga kesehatan Puskesmas Depok Raya dengan dukungan Kalurahan, Pamong, Dukuh dan Kader yang nantinya akan menjalankan program ini.

Pengendalian DBD dengan Nyamuk ber Wolbachia ini merupakan teknologi terbaru dengan metode memberikan bakteri wolbachia ke nyamuk aedes aegpty. Bakteri wolbachia ini secara alamiah dapat dijumpai di sejumlah serangga seperti kupu-kupu dan lalat buah. Bakteri ini mampu melemahkan virus penyebab dengue.

“Metodenya adalah menetaskan telur hasil pembuahan nyamuk yang sudah mengandung wolbachia di dalam ember. Ember tersebut diberikan pakan pelet. Sementara itu, ember yang digunakan sudah melakukan tahapan uji tes dengan desain sedemikian rupa, ditutup, dan ada lubah sekitar 8 buah sebagai tempat keluar nyamuk dewasa”, ujar Cahya Prihantama, salah satu narasumber dalam pelatihan tersebut.

Nantinya, nyamuk ber wolbachia tersebut akan kawin dengan nyamuk lokal yang menghasilkan keturunan menjadi nyamuk ber wolbachia juga.

“Jika nyamuk lokal betina kawin dengan nyamuk jantan ber wolbachia, maka si betina tetap bisa bertelur namun telur tersebut tidak berkembang. Jika nyamuk lokal jantan kawin dengan nyamuk betina ber wolbachia, maka akan menghasilkan keterunan nyamuk dengan wolbachia, ” tambah Asana, narasumber dalam pelatihan tersebut.

Jika populasi nyamuk ber wolbachia sudah 60%, maka efikasinya terhadap kasus DBD bisa mencapai 77%. Sehingga dapat dilihat grafiknya akan melandai. Untuk uji coba dalam program ini, diperlukan orang tua asuh yang nantinya akan menjaga ember-ember berisi telur sebagai media pengembangbiakan nyamuk berwolbachia. Setiap 14 hari sekali, tim dari WMP akan memonitoring dan menggantinya dengan telur nyamuk baru. Program ini rencananya akan dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan.

Diharapkan ada tindaklanjut dari pelatihan fasilitator ini sehingga bisa menyampaikan kebijakan ini di level Kalurahan, Dukuh, dan Kader.

“Memang di awal-awal implementasi ada tantangan tersendiri seperti pemahaman masyarakat yang kurang, penolakan, hingga kekhawatiran terhadap keamanan nyamuk ini, ” ujar Anisa, narasumber dalam acara training of trainer tersebut.

 

Please follow and like us:
About admin 931 Articles
Kecamatan Depok Kabupaten Sleman

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*